Kelompok Disabilitas Desa, Sukses Berjuang di Masa Pandemi – Pembahasanku

Selamat datang di Pembahasanku.com selalu support aku agar berkembang. Pada waktu saat ini, aku akan membahas berkenan Kelompok Disabilitas Desa, Sukses Berjuang di Masa Pandemi – Pembahasanku berharap bisa membantu kamu menambahkan wawasan.

Saat ini para penyandang disabilitas sudah mulai bisa bangkit. Mereka bisa mengalahkan kekurangannya dan memanfaatkan kelebihan dan kealhian mereka untuk bisa produktif dan mandiri secara finansial. Salah satunya adalah Wafil, lelaki berusia 37 tahun ini adalah penyandang disabilitas tuna daksa. Sebelum pandemi Wafil adalah seorang pemain bass sebuah grup orkes dangdut di Desa Balung, Kabupaten Situbondo. Adanya pandemi Covid-19 ini merubah segalanya bagi Wafil.

“Kami kehilangan panggung dan tersiksa saat PPKM ini. Padahal itu satu-satunya sumber penghasilan kami sehari-hari,” kata Wafil.

Wafil meninggalkan kesehariannya menjadi pemain bass dang bergabung bersama teman-teman disabilitas yang lain ke dalam Kelompok Disabilitas Desa. Dengan bergabungnya Wafil ke dalam KDD, dia banyak belajar mengenai bagaimana menanam bermacam sayuran seperti diantaranya sawi, selada, cabe, tomat dan terung. Di sinilah, Wafil merasa bahwa ada anugerah dibalik pandemi. Kelompok Disabilitas Desa bagi Wafil sudah menjadi rumah keduanya.

Nicha sebagai ketua Kelompok Disabilitas Desa menceritakan bagaimana awal terbentuknya KKD ini. Pada awalnya Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDis) serta Penyuluh Pertanian setempat datang dan mengajarkan banyak hal seperti bagaimana merawat tanaman, menyiapkan media tanam, hingga bagaimana usaha yang dilakukan agar bisa tumbuh subur semuanya. Walau sempat mengalami kegagalan karena kalah bersaing, KKD tetap terus belajar, sampai pada akhirnya mereka menemukan produk yang kelak jadi produk unggulan mereka, yaitu pupuk organik.

Untuk membuat pupuk organik, bahan baku sudah banyak tersedia di Desa Balung sendiri, mulai dari gedebok pisang yang dapat diolah menjadi bahan pupuk vegetatif dan kotoran kambing dari peternakan warga yang dapat menjadi pupuk generatif.

Sedangkan untuk pupuk organik cair, mereka  dapat meproduksi mencapai 160 liter perbulannya. Enam puluh liter diantaranya dapat memenuhi kebutuhan kelompok untuk menanam komoditas sayur kembali dan sisanya sejumlah 100 liter untuk memenuhi pesanan dari luar Desa secara rutin yang perbotolnya dapat terjual seharga Rp 35 ribu. Produk pupuk organik cair khas Desa Balung ini pun sudah terkenal di banyak daerah dan tak heran pesanannya berasal dari mana-mana. Usaha kelompok penyandang disabilitas ini sangat perlu diapresiasi. Di masa pandemi seperti sekarang, mereka dapat berhasil menyukseskan produk dari Desa mereka dan meningkatkan ekonomi warga sekitar.

Perjalanan Kelompok Disabilitas Desa ini diharap menjadi motivasi untuk kawan-kawan lain yang masih perlu dukungan untuk bergerak.

Referensi

MSN.com

Tempo.com